Pages

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18

| 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25

Kerajinan Kuningan | Profile Kerajinan Kuningan Bondowoso | Ivan Dedi Hp

DARI VAS BUNGA HINGGA NAGA RAKSASA

Dua desa di Bondowoso ini merupakan sentra kerajinan kuningan di Jawa Timur. Berbagai jenis kerajinan tangan berbahan dasar kuningan diproduksi di sana. Apa, sih, kelebihannya?


Dua orang lelaki, salah satunya bertelanjang dada, mengahdap perapian berukuran satu meter persegi. Dengan peluh bercucuran, keduanya mengangkat mangkuk berisi cairan kuningan. Lalu, menuangkannya ke dalam cetakan yang sudah ditata rapi. Tentu mereka melakukannya dengan hati-hati. Itulah kegiatan kuningan yang berada di Desa Cindogo dan Jurang Sapi, Kecamatan Tapen, Kabupaten Bondowo, sekitar 200 km dari Surabaya. Di kawasan Jawa Timur, Bondowoso memang terkenal dengan kerajinan kuningan. Bahkan, kerajinan ini sudah dikenal sejak zaman penjajahan Belanda. "Kami tidak tahu, sejak kapan kerajinan kuningan ada di sini. Yang pasti sejak zaman Belanda, mayoritas warga di sini sudah menjadikan kuningan sebagai mata pencarian," ujar Abdul Muhni (44), salah satu perajin. Sentra kerajinan ini terdapat di Desa Cindogo dan Desa Jurang Sapi. Dua desa ini letaknya berhadapan dan hanya dibatasi jalan raya yang menghubungkan Bondowoso-Situbondo. Di sana sedikitnya terdapat 50 perajin. Di pinggir jalan raya di dua desa ini terdapat beberapa show room yang memajang aneka kerajinan berbahan kuningan. Mulai yang berukuran kecil, semisal tempat lilin sampai sepanjang 7 meter berbentuk ular naga!



ANDALKAN CETAKAN KUE Kuningan produksi dua desa ini benar -benar merupakan kerajinan tangan. Artinya, semua mengandalkan keterampilan dan ketekunan pembuatnya. Sama sekali tidak menggunakan tenaga mesin. Kalau perajin di daerah lain biasanya menggunakan mesin pres, kami di sini tidak. Praktis semua menggunakan keterampilan tangan," papar Muhni. Muhni mengaku sudah menekuni usaha ini sejak tahun 1976. Pantaslah ia sudah sangat paham proses pembuatan kerajinan kuningan sejak awal hingga menjadi barang jadi. "Yang pertama adalah membuat cetakan. Misalnya membuat burung, pertama kali yang dilakukan adalah membuat mal atau cetakan berbentuk burung." Menurut Muhni, cetakan bisa dibuat dari tanah liat atau kayu. Setelah sesuai dengan bentuk dan ukuran yang diinginkan, mal tersebut diduplikatkan dalam bentuk malam. Dengan demikian malam tersebut sudah berbentuk tiga dimensi. Langkah berikut malam dilapisi tanah liat dan pastikan jangan sampai bocor. Hanya bagian atas yang diberi lubang sedikit untuk memasukkan cairan logam. Karena mal dari tanah liat ini berfungsi sebagai cetakan, jadi harus membuatnya sebaik mungkin dan hati-hati. Kalau tidak, nanti ketika dituangi besi cor panas akan pecah. Agar tak pecah dituangi logam panas, tanah untuk membuat cetakan harus dipilih yang bagus. Tidak semua tanah bisa tahan dengan panas yang tinggi," jelas Muhni. Kalau sudah berbentuk, besi cor yang panasnya ribuan derajat Celisius itu diambil dari tungku perapian dan dengan hati-hati dituangkan ke dalamnya. Sekitar satu jam kemudian setelah agak dingin, cetakan yang terbuat dari tanah tersebut dipecah pelan-pelan hingga tinggal kuningan yang sudah berbentuk. Kalau sudah keluar dari cetakan, bukan berarti bentuknya sudah sempurna sesuai dengan keinginan. Karena bentuknya masih kotor, maka perlu digosok, diukir, baru kemudian dihias dengan cat seuai dengan bentuknya," tambah Muhni. Andalan produk Muhni adalah cetakan kue. Ia membuat berbagai macam cetakan. "Produksi saya ini disukai banyak masyarakat. Saya mengirimkannya ke berbagai daerah," katanya bangga. Lewat usaha ini, Muhni mengaku bisa menghidupi keluarganya. "Hasilnya lumayan, kok. Terbukti kuningan bisa menghidupi warga desa ini." 
WARNA TAK PUDAR Tak jauh dari show room Muhni, terdapat UD Imanda di Jalan Raya Cindogo. Usaha yang dikelola Suwendi ini banyak memproduksi kerajinan berukuran besar. Di dalam show room yang tertata rapi itu, bertebaran barang-barang kuningan yang berukuran besar. Bahkan ada patung ular naga dengan panjang 5 meter. Ada juga harimau dengan ukuran sama dengan harimau sungguhan. Kami menerima pesanan dengan bentuk dan ukuran sesuai permintaan. Lebih panjang dan lebih besar dari harimau ini, kami juga bisa, kok," ujar Suwendi. "Pernah juga kami mendapat pesanan patung seukuran manusia normal. Kami cukup diberi foto, saya bisa membuat bentuk tiga dimensinya." Pria yang menjalankan usaha milik kakaknya ini menambahkan, membuat kerajinan ukuran besar ini tentu tak bisa cepat. Untuk membuat harimau, misalnya, ia menyelesaikannya dalam waktu satu bulan. "Ini, kan, pekerjaan seni. Tak bisa langsung jadi seperti barang pabrikan. Nah, untuk membuat cetakan sesuai dengan bentuk dan ukuran asli, saya memiliki tukang yang ahli," papar Suwendi. Setelah cetakan jadi, harimau atau ular naga itu masih harus dipahat lagi secara hati-hati. Setelah itu, di bagian-bagian tertentu dilakukan pengecatan. "Tujuan dipahat agar bagian-bagian tertentu bisa muncul. Inilah yang membuat semakin tampak bagus." Barang-barang ukuran lebih kecil juga diproduksi Suwendi. Misalnya patung burung bangau, tatakan lilin, bokor, vas bunga, lonceng rumah, sampai suvenir untuk perkawinanan. "Menjelang bulan-bulan banyak orang nikah, di sini juga menerima banyak pesanan," ujar Suwendi yang pernah berpameran di berbagai kota di Indonesia. Tak heran, karya Suwendi digemari pasar dalam negeri. Bahkan, karyanya juga sudah tersebar di berbagai belahan dunia. Dengan nada merendah Suwendi mengatakan, "Bukan kami sendiri yang membawa ke sana, tapi melalui sponsor. Terus terang jaringan internasional kami sangat kurang." Suwendi menjamin, sampai bertahun-tahun lamanya barang yang ia produksi tak akan pudar warnanya. "Kami membuatnya dengan kuningan pilihan, sehingga tak gampang pudar. Kalau kelihatan agak kusam, cukup dibersihkan dengan lap kering. Untuk membersihkan jangan menggunakan bahan kimia," kata Suwendi yang mematok harga produknya mulai dari Rp 25 ribu hingga Rp 5 juta. 
  SENI KUNINGAN DAN LUKIS Pasar luar negeri juga sudah ditembus Aisyah (40). Setidaknya sebulan sekali Aisyah mengirimkan kerajinannya ke Malaysia. Bahkan, produk Aisyah lebih banyak dipasarkan untuk pasar luar negeri. "Untuk pasar dalam negeri memang sedikit. Paling-paling tarikan gordin yang saya kirim ke Bali," kisah ibu tiga anak ini. Untuk pasar luar negeri, lanjut Aisyah, pihaknya mengirim barang setengah jadi. Misalnya meriam kuno, buaya, senjata, gentong, dengan berbagai jenis dan ukuran. "Jadi, setelah keluar dari cetakan, barang-barang itu saya kirim ke Malyasia. Sampai di sana dipoles lagi sesuai yang diinginkan," tambah Asiyah bersama suaminya, Abdul Muhni (44) mengelola usaha ini. Informasi yang diperoleh Aisyah, barang-barang tersebut diekspor lagi oleh Malaysia ke berbagai belahan dunia. "Yang saya tahu, meriam paling banyak diminati oleh orang-orang Eropa," tuturnya. Sayangnya, semua perajin yang NOVA temui, rata-rata mengatakan, belakangan ini hasil kerajinannya kurang begitu memuaskan. Harga jual dengan biaya produksi tidak sebanding. "Dulu sebelum BBM naik, harga satu kilo kuningan di loak cuma Rp 10 ribu, tapi sekarang harga melonjak menjadi Rp 23 ribu," ujar Anis. Padahal, barang-barang yang dijual tersebut tidak bisa secara otomatis dinaikkan sebesar seratus persen sesuai dengan kenaikan harga bahan baku. "Makanya, belakangan ini produsen di sini agak sedikit seret, meski tidak sampai mati," tambah Asiyah yang mewarisi usaha ini dari mertuanya. Kualitas produk amat diperhatikan perajin Ny. Anis. Ia mengaku kualitas barang-barang yang dijual di tokonya di atas rata-rata show room lain. "Saya bisa menjamin, secara kualitas maupun nilai seni, karya saya lain dari yang lain," ujar Anis yang semua pengerjaan dilakukan oleh suaminya sepulang dari mengajar sebagai guru. Masih kata Anis, ia dan suaminya juga membuat barang-barang yang memadukan antara seni kerajinan kuningan dengan lukis. Salah satunya seekor bangau dengan gambar timbul di atas lempengan kuningan yang terbingkai. Karya lain yang tak kalah eksklusif adalah jenis kaligrafi. "Maaf kedua karya ini jangan difoto. Nanti kalau muncul di koran, pasti banyak yang meniru," ujar Anis yang mematok harga masing-masing Rp 1,5 juta.Sumber : Tabloid Nova

<<< Kembali Ke Koleksi Kerajinan Kuningan